Mengenal Pelmas BPD GBI DKI Jakarta dalam Musibah dan Bencana
Bidang Media BPD DKI Jakarta GBI melakukan wawancara dengan Wakil Ketua I BPD Pdt. Sapto Edhi Raharjo seputar pelayanan masyarakat (Pelmas) yang dilakukan, dilayani dan dikerjakan oleh hama-hamba Tuhan yang setia dari ke lima wilayah di DKI Jakarta.
Pdt. Petrus Soeganda:
Pak Sapto, bagaimana Bapak melihat peran Pelmas BPD GBI DKI Jakarta ketika terjadi musibah atau bencana?Pdt. Sapto Edhi Raharjo:
Pelmas hadir sebagai perpanjangan tangan kasih Tuhan di tengah penderitaan. Ketika bencana terjadi, gereja tidak boleh diam. Kami bergerak untuk menolong secara nyata, baik melalui bantuan logistik, pelayanan kesehatan, dukungan psikososial, maupun doa dan pendampingan rohani bagi para korban.
Pdt. Petrus Soeganda:
Apa yang menjadi prinsip utama Pelmas dalam merespons situasi darurat?
Pdt. Sapto Edhi Raharjo:
Prinsip kami adalah cepat, tepat, dan penuh kasih. Kami berupaya melakukan asesmen lapangan secepat mungkin, berkoordinasi dengan gereja lokal serta relawan, lalu menyalurkan bantuan sesuai kebutuhan riil masyarakat yang terdampak.
Pdt. Petrus Soeganda:
Banyak yang mengatakan pelayanan Pelmas benar-benar terasa dan berdampak. Menurut Bapak, apa kunci sehingga pelayanan ini bisa menjangkau masyarakat dengan baik?Pdt. Sapto Edhi Raharjo:
Kuncinya ada pada kolaborasi dan kesiapan. Pelmas tidak berjalan sendiri, tetapi bersinergi dengan gereja-gereja lokal, bidang lain di BPD, tenaga medis, relawan, bahkan aparat setempat. Selain itu, kami terus membangun sistem kesiapsiagaan agar saat krisis datang, gereja sudah siap bergerak.
Pdt. Petrus Soeganda:
Dalam pelayanan bencana, tantangan apa yang paling sering dihadapi?
Pdt. Sapto Edhi Raharjo:
Tantangan terbesar biasanya adalah akses ke lokasi, keterbatasan sumber daya, dan kondisi korban yang trauma. Namun justru di situlah gereja dipanggil untuk hadir, bukan hanya membawa bantuan materi, tetapi juga penguatan iman dan pengharapan.
Pdt. Petrus Soeganda:
Bagaimana Bapak melihat keterlibatan jemaat dalam pelayanan Pelmas?Pdt. Sapto Edhi Raharjo:
Kami sangat bersyukur karena banyak jemaat yang tergerak untuk terlibat, baik sebagai relawan, donatur, maupun pendoa. Ini menunjukkan bahwa kesadaran gereja akan panggilan sosial semakin bertumbuh. Pelmas ingin menjadi wadah agar jemaat bisa menyalurkan kepedulian itu secara terarah dan berdampak.
Pdt. Petrus Soeganda:
Apa harapan Bapak terhadap pelayanan Pelmas BPD GBI DKI Jakarta ke depan?
Pdt. Sapto Edhi Raharjo:
Saya berharap dengan pelmas maka terjadi kesatuan gereja gereja GBI di jakarta dengan melakukan kegiatan bersama kepada masyarakat dimana gereja kita ditempatkan.
Pdt. Petrus Soeganda:
Sebagai penutup, apa pesan Bapak bagi para gembala dan jemaat terkait pelayanan di masa-masa sulit seperti bencana?Pdt. Sapto Edhi Raharjo:
Saya ingin mengajak seluruh gereja untuk tetap peka terhadap penderitaan di sekitar kita. Bencana membuka kesempatan bagi gereja untuk menjadi terang dan garam. Mari kita terus bersatu, bergerak bersama, dan menghadirkan kasih Kristus secara nyata di tengah dunia yang terluka.
GBI SANGRILA INDAH DUA