MEMBANGUN RUMAH TANGGA

TIDAK SEMUDAH MEMBANGUN TANGGA RUMAH

Pdt. Roditus Mangunsaputro (kabid. Keluarga BPD GBI DKI Jakarta)

Membaca judul diatas sepertinya lucu. Manalah mungkin membandingkan membangun rumah tangga dengan membangun tangga rumah. Membangun tangga rumah cukup beberapa hari maka sudah terlihat bentuk tangga yang kokoh, sedang membangun rumah tangga adalah seumur kehidupan pernikahan itu sendiri.

Suatu lembaga rumah tangga yang hebat adalah produk kerjasama yang hebat dari masing-masing individu didalam lembaga rumah tangga itu, yang memiliki kemauan keras untuk menegakkan lembaga rumah tangga ditengah tantangan-tantangan yang tidak ringan dan unik, sehingga diperoleh pengalaman-pengalaman dan kedewasaan kehidupan dalam berumah tangga.

Tidak terhitung banyaknya pasangan-pasangan yang mempercayai bahwa kisah cinta mereka yang dipersatukan dalam bentuk pernikahan tidak akan berakhir, nyatanya ketika diperhadapkan dengan kehidupan yang penuh tantangan, mereka merasa terperangkap ditengah-tengah suatu bab yang tidak mereka sukai dan mereka terperangkap didalamnya, sehingga mengambil keputusan cepat dimana bab yang tidak disukai dikoyakan dengan kasar melalui perceraian atau kehilangan pasangan. Termasuk dikalangan pernikahan Kristen dimana kecenderungan perceraiannya cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

Dalam pernikahan Kristen, umumnya kedua mempelai mengikrarkan janji untuk hidup bersama dihadapan Tuhan, hamba Tuhan dan Jemaat-Nya sebagai bentuk pengakuan bahwa pasangannya itu akan menjadi seorang istri atau suami yang sah dalam kehidupan mereka, yang sudah dipertimbangkan dengan matang dan tidak asal-asalan.

Dengan itu pula janji itu tidak hanya diingat dan dikenang, tetapi lebih dari itu, janji itu harus dijaga dan dalam kehidupan sebagai suami istri dan dalam sebuah keluarga.

Menjaga sebuah janji tidaklah gampang, ada pelbagai tantangan dan tawaran yang bisa membelokan pikiran perasaaan seseorang. Hal itu bisa berujung pada penyangkalan pada janji yang telah dibuatnya saat pernikahan. Penyangkalan itu bisa menghadirkan pelbagai macam konsekwensi. Konsekwensi pertama adalah keretakan relasi antara kedua belah pihak. Juga kepada pihak-pihak yang secara langsung dan tidak langsung terlibat dalam hubungan ini, pihak-pihak itu bisa berupa keluarga kedua belah pihak dan anak-anak pastinya rasa tidak nyaman dan kekecewaan.

Artikel Lainnya :   Transinformasi Edisi Natal 2021 dan Tahun Baru 2022

“Allah, bukan kamu, yang menciptakan pernikahan. Roh-Nya menghuni bahkan rincian-rincian terkecil dari pernikahan, maka jagalah roh pernikahan di dalam kamu. Karena pernikahan tidak dapat diciptakan ulang tanpa ijin dan peran serta-Nya” (Malaeaki 2:15 “Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya.”)

Itulah sebabnya Bidang Keluarga BPD GBI DKI itu ada untuk menjadi berkat bagi keluarga-keluarga orang percaya di Jakarta untuk tetap setia terhadap ikrar janji di hadapan Tuhan, karena keluarga sangatlah penting bagi Tuhan, bagi gereja-Nya dan bagi umat-Nya.

Sebagaimana nyanyian berkata : “Harta yang paling berharga adalah keluarga, puisi yang paling indah adalah keluarga”.